Minggu, 04 Desember 2016

Ketika anak yang "aneh" berkomunikasi


Komunikasi bagaikan daging yang melekat pada tulang. Sehingga komunikasi tidak dapat dipisahkan begitu saja dari peradaban manusia. Dengan komunikasi, ada proses penyampaian pesan pada komunikan. Hal ini merupakan suatu kewajaran yang diakui manusia.

Tetapi tidak dengan anak yang selalu gagal dalam menyampaikan pesan, karena disetiap interaksinya ia tidak mendapatkan feedback yang diharapkan. Karena yang kembali bukanlah sebuah kepahaman oranglain, justru berubah menjadi bahan ejekan, pengkucilan karena dianggap aneh (tidak menyambung), hingga tindakan ekstrim dengan membully. Seandainya ada UU yang melindungi para komunikator ini, namun faktanya, bagaikan menunggu pesawat terbang dipelabuhan. Tidak ada hukum yang dapat melindunginya.

Menurut pengamatan saya, Ketika seorang anak gagal menyampaikan pesan. Banyak dampak yang ditimbulkan. Baik secara eksternal maupun internal anak. Rata-rata anak ini disebut manusia aneh. Namun apa yang sebenarnya terjadi didalam internal mereka?
Hal yang paling sederhana yaitu timbulnya stress. Karena merasa tertekan dengan perkataan teman-teman dan merasa dikucilkan dalam lingkungan sosialnya. Dari aspek konsep diri, anak cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah, sehingga keadaan ini menuntutnya jadi seorang pendengar yang baik (pendiam). Sehingga berpengaruh pada hasil belajar dan prestasinya disekolah.

Ketika ditelusuri lebih dalam, apa penyebab utama dari kasus anak tersebut. Ternyata hal ini terjadi akibat dari pola asuh orangtua yang cenderung otoriter. Mengapa? Karena pada pola asuh ini orangtua lah yang menjadi pengendali seluruh kehidupan anak. Sehingga anak tidak memiliki hak untuk memilih bahkan hak berbicara. Karena apapun serba diatur, bila anak tidak tunduk maka orangtua terus menekannya agar melaksanakan perintahnya. Baik itu perkataan bahkan tindakan fisik. (Jenis komunikasi defensif)

Dampaknya anak menjadi tidak terlatih komunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaannya / menjadi seorang introvert. Karena anak terlalu banyak mendapat tekanan, baik itu dari keluarga yang otoriter, berbagai dinamika dilingkungan sosial. 

Lalu apa yang akan terjadi pada mental anak? Hanya ada 2 kemungkinan, namun hal tersebut bergantung pada kualitas koping stressor yang dimilikinya.
Anak yang memiliki koping stressor yang baik, ia tidak akan menjadi seorang yang depresi, seperti pohon kurma yang semakin ditekan, semakin akarnya menghujam kedalam tanah. bahkan cenderung untuk mencari lingkungan yang dapat menerimanya. Menjadi seorang pendengar yang baik, peka terhadap perasaan oranglain. Meskipun Buku diary lah satu-satunya teman yang paling mengerti keadaannya. Karena menulis menjadi penyalur stress, kemungkinan peluang menjadi seorang penulis sangatlah besar. Namun selain ia akan menjadi teman curhat yang membuat oranglain nyaman berada didekatnya. Tidak heran bila ia menjadi seorang yang bijak.

Lain halnya dengan kondisi anak yang memiliki koping stressor lemah, maka yang akan terjadi ia cenderung akan memiliki perilaku yang menyimpang. Menyalurkan stressnya pada hal negatif sehingga potensi terbawa pergaulan bebas sangat tinggi. Karena yang ia cari adalah sebuah ketenangan dan kebahagiaan. 

Maka dari itu, ketika kita menemukan anak dengan gagal komunikasi. Mereka bukanlah orang yang terhina. Coba dekati. Karena yang mereka butuhkan adalah pengakuan sosial, kebahagiaan, perhatian, dan kasih sayang yang tulus.