Setiap orang tua pasti berkeinginan dan mempunyai harapan yang sama terhadap anak-anaknya, yaitu agar memiliki cita-cita yang lebih tinggi dari mereka dan sukses. atau keinginan untuk membangkitkan semua mimpi-mimpi yang terpendam mereka dulu. begitu pula sama dengan anak-anaknya, ia juga pasti berkeinginan untuk membahagiakan kedua orang tua nya. dengan cara menggapai semua impian dan harapannya.
orang tua mana sihh yang tidak ingin anaknya sukses. banyak sekali bahkan tidak terbilang total suaranya. terkadang cara-cara mereka untuk mendidik putra-putrinya dengan cara yang tidak lazim. khususnya terhadap anak yang telah menginjak usia remaja. sekitar antara 12-17 tahunnan. kadang ada saja orangtua yang beranggapan bahwa mendidik dengan cara merendahkan harga diri anaknya di depan publik, merupakan cara yang ampuh untuk membuat anaknya sadar atas kesalahan yang diperbuatnya. dan ada pula dengan cara membanding-bandingkannya dengan kakak-adiknya atau dengan orang-orang lainnya. akhirnya anak tersebut menjadi bahan tolak ukur yang seolah-olah kedua orang tua nya menjudge anaknya dengan hal yang negatif.
sementara cara yang digunakan diatas sangatlah fatal. meski para orang tua berniat untuk kebaikan anaknya. terkadang orang tua menjadikan tindakan tersebut sebagai pelampiasan masalahnya terhadap anak tetapi semua cara itu tidak akan membuahkan hasil yang baik bagi perkembangan psikis anak tersebut.
mengapa dampak buruk terjadi? karena anak sering mendapat perlakuan seperti itu, ia akan tumbuh dan berkembang karena rasa rendah diri, tanpa sedikit pun merasa dalam keadilan. sebaiknya orang tua jangan sekali-kali memakai cara seperti itu. karena semua cara itu akan berpengaruh besar terhadap sikap dan prilaku putra-putrinya.
coba bila kita lihat anak yang tumbuh dibesarkan oleh kalimat-kalimat bermanfaat. yaitu kata-kata motivasi yang akan membangun rasa kepercayaan dirinya. pasti akan berbeda hasilnya dengan anak yang dibesarkan dengan rasa rendah dirinya. karena survei membuktikan bahwa anak yang dibesarkan dengan kata-kata yang membangun, ia cenderung merasa percaya diri dan berprestasi dibandingkan dengan anak yang di besarkan dengan rasa rendah diri.
jangan salah bila keadaan psikis pada anak-anak itu sangat bertolak belakang. tapi anehnya, menurut presepsi saya. kenapa orang tua selalu membanding-bandingkan anaknya dengan anak yang lebih unggul. coba bayangkan bila mereka merasakan bagaimana berada diposisi anak yang selalu dibandingkan nya itu. secara mereka para orang tua tak akan sedikitpun berminat untuk merasakan posisi tersebut.
memang pernah ada orang tua yang ketika ditanya, "mengapa anda selalu membanding-bandingkan anak yang berperilaku buruk, dengan anak yang berperilaku sebaliknya secara tajam dan terang-terangan??"
para orang tua itu menjawab. "agar anak saya bisa ter-motivasi dengan sesosok yang berperilaku baik itu agar ada kesadaran untuk berubah dan mengikutinya.. "
lalu terajukan kembali pertanyaan kepada orang tua itu. "lantas, mengapa dengan cara seperti itu anda memotivasi anak anda,? memang tidak ada cara lain yang lebih baik dari cara membanding-bandingkan kualitas anak??" serentak para orang tua itu menjawab. "dimana-mana juga kalau membadingkan itu dengan yang kualitasnya lebih baik. apakah mau bila dibandingkan dengan melihat kualitas buruknya?? tidak kan?!"
memang jawaban para orang tua yang keras kepala pasti seperti itu. secara tidak langsung orang tua yang seperti itu telah lebih memihak, tanpa memperdulikan anak yang berkelakuan buruk itu.
ini juga sangat berpengaruh dengan tingkat kualitas anak tersebut. anak akan cenderung berpikir bahwa orang tuanya itu pilih kasih dan anak tersebut merasa telah dibenci oleh kedua orang tuanya. sehingga ia akan berputus asa dengan keadaannya berada dalam tekanan mental. semua itu bisa menjadi sebuah alasan terjadinya sebuah perlawanan / pembantahan terhadap orangtua.
tetapi semua kepurukan ini bisa di cegah apabila si anak memiliki niat berpikir positif. terkadang orang tua melakukan cara tersebut, kadang kala dari pihak anak nya dahulu yang membuat ulah kepada orang tuanya. bila si anak berpikir untuk introspeksi diri dan membuat suatu komitmen dengan orang tuanya. niscaya si anak akan terbebas dari tekanan yang mendalam dari orang tuanya tersebut. lalu ia mulai untuk merubah sikap nya.

memang merubah sikap dan prilaku itu tidak mudah hanya dengan sekejap mata langsung berubah menjadi apa yang diinginkan. apalagi bila semua sikap buruknya itu telah menjadi kebiasaan dalam hidupnya. semua perubahan memang selalu membutuhkan proses. mana ada sesosok preman yang hari ini insyaf, lalu keesokan harinya ia telah menjadi ustadz. atau kita ambil contoh yang tanpa disadari selalu ada dalam kehidupan, yaitu membuat kue saja membutuhkan proses kan? tak akan mungkin ibu menyiapkan bahan-bahan mentah yang belum menjadi adonan, lalu tiba-tiba semua itu lelah siap saji menjadi kue. itu semua sama sekali tidak masuk akal, benar kan?. semua sudah menjadi hukum alam yang tidak bisa direkayasa ataupun didustai dengan berbagai macam tipu daya manusia.
bagi sebagian pengguna logika, terkadang ada saja orang tua yang tidak percaya bahwa anaknya akan berubah dari sikap dan prilakunya negatifnya itu. apalagi bila orang tua sudah memberi 'CAP' sebagai anak yang pemalas, lelet, bodoh dan lain sebagainya..
(ilustrasi dari anak yang pemalas).
anak itu sudah berusaha mencoba unuk berubah, tetapi orang tua yang tak mau mengalah itu selalu saja manganggap ia sebagai anak malas, karena ia baru-baru ini sedang mempersiapkan, dan berikhtiar berusaha hijrah dari sifat malasnya. itu wajar, resiko bagi anak pemula.
karena semua perubahan itu bukan hanya sekedar memerlukan waktu yang singkat. akan tetapi harus dengan proses yang cukup lama. tergantung dari kemampuan dan apa yang akan dikehendakinya. jadi ketika seorang anak akan berubah. lebih baik membicarakannya dengan kedua belah pihak, agar semua kembali normal. ingat satu lagi, jangan lupa untuk selalu bertawakal agar dimudahkan perencanaannya.
jadi, semua anak di muka bumi ini tidak ada yang prilaku buruk, semua memiliki prilaku yang baik. tapi bila kita melihat anak yang menyimpang sosial. itu bisa jadi karena cara didik orang tuanya sejak dini dan lingkungan dimana ia dibesarkan.
pesan bagi para orang tua..
didiklah anak dengan cara se-terbaik mungkin yang bisa anda lakukan, bagaimanapun caranya. selama cara itu bisa membangkitkan rasa percaya diri seorang anak. ^_^